Ir. Soekarno

Posted: Oktober 20, 2010 in Uncategorized
Tag:

Ir. Soekarno, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Karno adalah soeorang nasionalis sekaligus mantan presiden Republik Indonesia yang pertama. Beliau juga merupakan pembaca naskah proklamasi kemerdekaan, serta termasuk penyumbang ide dalam penyusunan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Bung Karno lahir pada tanggal 6 Juni 1901. Ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo seorang guru di Surabaya, sementara ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Pulau Bali.

Soekarno kecil tinggal di Tulung Agung bersama kakeknya. Saat usianya 14 tahun, ia diajak oleh Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Tjokroaminoto) yang merupakan rekan ayahanya, untuk pindah dan tinggal di Surabaya. Soekarno kala itu bersekolah di Hoogere Burger School (H.B.S) yang merupakan salah satu sekolah kolonial Belanda di Surabaya. Soekarno banyak bergabung dengan organisasi tingkat nasional seperti Sarekat Islam, begitupun organisasi kedaerahan seperti Jong Java. Setelah tamat dari H.B.S, Bung Karno meneruskan sekolahnya di Technische Hoge School (ITB Bandung). Di Bandung, Soekarno mulai melebarkan sayap, ia menjalin hubungan persahabatan dengan berbagai orang penting seperti Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker (Seorang Indo-Belanda). Keduanya saat itu merupakan pemimpin National Indische Partij.
Soekarno memang terkenal memiliki banyak istri. Yang resmi ada sekitar 4 orang, yaitu Ibu Fatmawati (The First Lady), Ibu Hartini, Ibu Ratna Sari Dewi (Seorang Jepang dengan nama asli Naoko Nemoto), serta Ibu Haryati. Soekarno dikharuniai anak dari hampir semua istrinya. Dari Bu Fat antara lain Guntur Soekarnoputra, Sukmawati Soekarnoputri, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, serta Guruh Soekarnoputra. Dari Ibu Hartini, ada Taufan serta Bayu Soekarnoputra, sementara dari istrinya yang termuda, Ratna Sari Dewi, ada Kartika Sari Dewi Soekarno.
Kehidupannya sebagai seorang nomor satu di Republik Indonesia dipenuhi berbagai peristiwa penting. Di balik itu, ia tetaplah seorang pria yang ramah serta bersikap sopan pada ajudan – ajudannya. Salah seorang ajudan yang setia menemaninya hampir selama 8 tahun adalah Bambang Widjarnako. Ia menceritakan tentang Bung Karno dalam bukunya yang berjudul ‘Sewindu Dekat Bung Karno’.
Bung Karno memang seorang negarawan yang handal dan hampir perfek. Ia selalu tampil baik dan memang sungguh cocok untuk dijadikan sebagai presiden. Kehidupannya di istana diawali dengan bangun pagi, melakukan ibadah, serta berjalan – jalan di taman Istana Merdeka. Hal yang paling mengagumkan adalah, Bung Karno tahu persis hampir seluruh tanaman yang ada di taman istana. Bung Karno bahkan paham betul nama latin, banyak sedikit jumlah cahaya yang diperlukannya untuk tumbuh, masa perbungaan tanaman tersebut. Terkadang beliau menanyai ajudannya tentang hal tersebut, tujuannya tentunya agar ajudannya mau dan tidak malu untuk mempelajari sesuatu yang lain dari bidang pekerjaanya sebagai ajudan.
Bung Karno sangat mencintai alam. Ia suka berjalan – jalan dengan kaki telanjang, sebab menurutnya antara manusia dengan bumi ada hubungan yang tidak bisa dilepaskan, seperti hubungan anntara ibu dengan anaknya. Suatu waktu ada seorang dari Indonesia Timur memberi Bung Karno seekor burung yang ia tangkap. Dengan sigap Bung Karno menerimanya, lalu melepaskan burung tersebut ke taman istana. Memang Bung Karno lebih menyukai bila burung – burung dapat beterbangan dengan bebas, dan tidak terkurung di sangkarnya. Menurut beliau, kicau burung di pagi hari sangat mendamaikan jiwa.
Bung Karno juga suka mengkoleksi barang – barang antik seperti keris, arca dan berbagai benda khas nusantara. Tujuannya tidak lain adalah keindahan seni serta nilai historis yang dimiliki benda tersebut. Lukisan juga merupakan salah satu benda seni yang dikaguminya. Bung Karno menyukai aliran naturalis, baik yang berupa manusia, hewan, alam, dsb. Saat melakukan kunjungan ke Paris, Perancis, Bung Karno pun diberi hadiah sebuah lukisan bunga mawar merah dengan setetes embun di atasnya, ia merasa sangat senang. Koleksi patung pun tidak luput dari koleksi barang antiknya. Beberapa patung kini masih ada di Istana Bogor. Bung Karno juga menyukai berbagai macam kesenian Indonesia. Misalnya seperti kesenian wayang, serta tari – tarian. Tari yang paling disukai adalah tari Gatot kaca. Hampir setiap ada penerimaan tamu negara, Bung Karno selalu mempersembahkan tarian Gatot kaca. Penari yang ada direkrut dari Sri Wedari Solo. Bung Karno juga memberikan sarannya kepada tari – tarian yang pernah dibawakan ke hadapannya. Misalkan Tarian Kecak, Bung Karno menyarankan agar pasukan hanoman yang ada untuk dilipatgandakan. Tarian Gatotkaca juga tidak luput dari sarannya, agar selama pertunjukan turut ditabuh bedug, dan hingga kini saran tersebut masih diaplikasikan oleh sanggar tari Sri Wedari. Seni bangunan pun juga dikuasai oleh Bung Karno. Hampir sebagian bangunan landmark yang ada saat itu pembangunannya diawasi langsung oleh Bung Karno. Semisal Tugu Monas, Istana Tampak Siring, Masjid Istiqlal, serta Guest House di Istana Negara. Bung Karno menginginkan semua bangunan itu bercirikan nusantara, bukan gaya Eropa, dalam hal ini gaya Belanda.
Saat melakukan kunjungan negara, Bung Karno selalu memakai pesawat Pan American Airlines (Panam) lengkap dengan flight crews¬-nya. Hal ini pernah menimbulkan masalah saat Bung Karno berkunjung ke Federasi Russia yang saat itu bernama Uni Sovyet. Perang dingin antara Russia dengan Amerika Serikat membuat pemerintah Russia kurang menyukai kebiasaan Bung Karno tersebut. Suatu waktu, saat Bung Karno tiba di Moskow, pesawat Amerika tersebut diparkir di antara dua pesawat Rusia seri IL.111 yang cukup besar, sehingga nampaknya pesawat Panam tersebut sangat kecil, namun saat ditawari oleh pihak Russia untuk menggunakan pesawat Rusia yang lebih besar, Bung Karno selalu menolaknya dengan halus. Ia beralasan, meski kecil, namun pesawat Panam membuatnya merasa nyaman.
Bung Karno sangat suka mengadakan perjalanan dinas ke luar negeri. Ditunjang profesinya sebagai presiden Republik Indonesia yang harus menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif. Beberapa negara yang pernah dikunjungi antara lain, Rusia, Amerika Serikat, Kuba, Yugoslavia, Cina, Perancis dan Siwzerland. Kesukaannya melakukan kunjungan ke negara – negara dunia diimbangi dengan kemampuannya berbahasa. Bung Karno dapat berbahasa Inggris, Perancis, Jerman dan Belanda dengan baik, dan sedikit bahasa Spanyol serta bahasa Jepang secara pasif. Dalam berbahasa Inggris pun ia mencoba untuk selalu sempurna, contohnya saat ajudannya diajak berbicara oleh Kaisar Haleselasi, sang ajudan menjawabnya dengan ‘Yes,Excellency’ , Bung Karno membenarkan bahwa seharusnya sang ajudan menjawab ‘Yes, Your Majesty’. Diantara sekian bahasa tersebut, yang paling sering diaplikasikan Bung Karno adalah bahasa Inggris serta bahasa Belanda. Hampir sebagian pidato Bung Karno di sidang PBB dibuatnya sendiri dengan tata bahasa yang cukup baik, dan selama berbincang dengan teman – teman seperjuangan yang pernah belajar di Negeri Belanda, ia selalu mengusahakan untuk berbahasa Belanda.
Bung Karno juga fasih berpidato. Ia dapat berdiri berjam-jam untuk berpidato. Pidato yang disampaikannya tidak hanya menggugah semangat bangsa untuk maju, tapi juga semangat nasionalisme. Nasionalisme yang ditawarkan oleh Bung Karno 180 derajat berbeda dengan nasionalisme yang ditawarkan oleh Hitler. Nasionalisme yang ditawarkan oleh Hitler adalah Chauvinisme, yaitu pahan bahwa bangsa Jerman dengan mata biru dan rambut jagung adalah bangsa yang minulyo, bangsa lain hanya sampah. Namun pandangan Soekarno jauh berbeda, nasionalisme adalah perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah air yang kuat, namun juga menghargai bangsa lain, sebab semua bangsa pada hakikatnya adalah sama. Oleh karena itu, Bung Karno juga menentang keras imperialisme yang dilakukan oleh negeri barat.
Saat Amerika Serikat masih ada di bawah kepemimpinan Kennedy, Bung Karno menjalin hubungan yang sangat baik. Ditunjang dengan segala bantuan yang ditawarkan oleh Kennedy untuk Republik Indonesia yang masih belia kala itu. Selain itu, Kennedy juga mendukung Republik Indonesia agar mendapatkan kembali Irian Barat (Kala itu masih dipersengketakan dengan pemerintah Belanda). Bahkan Bung Karno menyiapkan Guest House di Istana Negara khusus untuk Kennedy saat itu. Pembunuhan Presiden John F. Kennedy tidak hanya membuat rakyat Amerika sedih, begitupun yang dirasakan oleh Bung Karno. Presiden yang menggantikan Kennedy, Johnson, lebih memihak Belanda. Bung Karno menjadi geram. Mulai saat itulah, Bung Karno lebih memihak pada negara – negara blok timur seperti Russia, RRC, dan Kuba. Sebab kemana lagi Republik Indonesia harus meminta bantuan, saat negara – negara Eropa tidak mau membantunya.
Saat terjadi perbedaan pendapat antara Bung Karno dan Bung Hatta, keduanya memutuskan untuk tidak lagi menjadi Dwi Tunggal. Meski begitu, keduanya tetap bersahabat baik, menjalin komunikasi, serta menjaga silaturahmi. Perbedaan pendapat tidak menjadikan keduanya benar-benar berpisah. Misalnya saat Bung Karno dikabarkan sakit, Bung Hatta dengan sigap segera menjenguknya.
Pandangan Bung Karno adalah sebuah pandangan yang mendalam tentang tujuan hidup. Beliau pernah menuliskan tentang pandangannya itu dalam salah satu karangannya. “Saya tidak tahu, kan diberi hidup oleh Tuhan sampai berapa lama. Tetapi permohonanku kepada-Nya ialah supaya hidupku ini menjadi hidup yang bermanfaat. Manfaat bagi tnah air dan bangsa, manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini saya panjatkan pada tiap – tiap sembahyang. Sebab, Dialah asal segala asal. Dialah Purwaning Dumadi”.
Di atas semua kehebatannya, sebagai Presiden Seumur Hidup, Pemimpin Besar Revolusi (The Grand Leader of Revolution), Panglima Tertinggi ABRI, Mandataris MPRS tetaplah seorang biasa. Saat itu, kesehatan Bung Karno mulai berkurang. Penyakit ginjalnya juga semakin parah. Pesan terakhirnya, ia ingin dimakamkan di Istana Bogor di bawah batu tulis yang bukan bertuliskan “Di Sini Makam Sang Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, Presiden Soekarno” namun “Di Sini Beristirahat Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Bung Karno wafat pada tanggal 21 Juni 1970. ia dimakamkan di sebuah pemakaman di kota Blitar. Perjalanan Jakarta – Blitar adalah hari berkabung nasional. Jalanan dipenuhi jutaan warga Indonesia sambil membawa sapu tangan serta karangaan bunga, menyambut Putera Sang Fajar. Ibu Pertiwi benar-benar kehilangan Putera Sang Fajar, harta yang paling berharga yang pernah dimiliki oleh Republik Indonesia. Selamat jalan Bung, Kami sebagai generasi muda akan melakukan semua yang terbaik bagi negeri ini, negeri yang telah Kau besarkan dengan jerih payah, semoga apa yang Kau cita – citakan, dapat Kami penuhi.
Bung Karno merupakan sosok pemimpin, serta nasionalis sejati yang patut untuk diteladani. Ia sangat mencintai tanah air serta bangsanya, ia juga banyak berkorban serta berjuang demi Ibu Pertiwi. Bung Karno rela diasingkan oleh pemerintah Belanda, demi kemerdekaan Indonesia. Bung Karno mengembangkan hubungan diplomatik dengan berbagai negara demi menjaga ekssitensi Indonesia di tingkat internasional. Bung Karno hingga akhir hayatnya tetap memuja Ibu Pertiwi. Indonesia bukan hanya dari Sabang sampai ke Merauke, tapi juga kesatuan yang ada di dalamnya, Bhineka Tunggal Ika – Unity in Diversity. Kita harus bangga sebagai putera – puteri Indonesia. Kelak suatu saat akan muncul lagi seorang Putera atau Puteri Sang Fajar yang rela berjuang dan berusaha demi kemajuan bangsa dan tanah air tercinta, Majapahit, Nuswantara, Nusantara, sang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s