IPS BUKAN ILMU SOSIAL SERTA KEKURANGANNYA

Posted: Oktober 20, 2010 in Uncategorized
Tag:

Pada saat kita duduk di SD (Sekolah dasar) terdapat beberapa macam mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, PENJASKES, PLKJ, PPKN, dsb. Dari beberapa macam mata pelajaran yang disebutkan tadi ada dua mata pelajaran yang dari zaman Indonesia belum merdeka sampai sekarang masih hangat menjadi bahan perbincangan, pendiskusian bahkan perdebatan.

Mata pelajaran tersebut adalah IPA dan IPS. IPA dan IPS merupakan mata pelajaran induknisasi dari berbagai macam mata kuliah yang ada di perguruan tinggi. IPA dan IPS inilah yang dapat menentukan seseorang mendapatkan pengakuan sebagai seorang Sarjana, Master bahkan Doctor sekalipun. Alasan utama kenapa ada klasifikasi Ilmu antara Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah untuk menciptakan seseorang yang ahli dibidangnya (Right man and Right place), mengingat bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna yang tidak dapat menguasai semua ilmu yang ada dimuka bumi ini. Namun sesuai perkembangan zaman, alasan tersebut menjadi menyimpang kearah komersillisme.

Di Indonesia misalnya, pembagian jurusan antara IPA maupun IPS terjadi di kelas 2 SEKOLAH MENENGAH TINGKAT ATAS (SMA). Khusus untuk jurusan IPA harus mencapai nilai standar yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah pada mata pelajaran Fisika, Biologi, dan Kimia sedangkan untuk jurusan IPS tidak ada kriteria seperti itu yang penting tercapainya kriteria naik kelas (walaupun nilainya pas-pasan). Masalah yang sering timbul dari siswa-siswi pada saat pembagian jurusan tersebut adalah kekecewaan yang mendalam yang timbul dari siswa-siswi yang tidak lolos masuk jurusan IPA. Mereka merasa terhina, paling bodoh, dan lebih parahnya lagi omelan dari orang tuanya masing-masing. Mereka menganggap bahwa orang-orang yang lolos ke jurusan IPA adalah orang-orang terpilih dan termasuk orang-orang sukses karena IPA inilah cikal bakalnya mewujudkan cita-cita.

Memang kalau kita melakukan penganalisaan, pengamatan, dan peninjauan di berbagai SMA di Indonesia, anak-anak IPA memiliki ciri-ciri khusus antara lain orang-orangnya disiplin, tahu akan posisi mereka (ada saatnya belajar dan ada saatnya bermain), tidak suka berisik pada saat proses belajar-mengajar berlangsung, teliti dan cekatan. Beda dengan anak-anak IPS yang selalu terkenal akan keberisikannya, ketidakpatuhan akan peraturan sekolah (terutama masalah seragam sekolah), dan prestasi dibidang akademik selalu dibawah anak-anak IPA (walaupun tidak semuanya, tapi sebagian besar). Ciri-ciri ini terbentuk karena pola pengajaran dan mata pelajaran yang didalami oleh setiap jurusan. Misalnya IPA, sebagian besar mata pelajaran yang harus dikuasai oleh orang-orang IPA adalah mata pelajaran ilmu pasti (yang lebih banyak mengandalkan perhitungan dan logika) sehingga akan menciptakan ciri-ciri teliti dan cekatan. Sedangkan mata pelajaran yang didalami oleh anak-anak IPS kebanyakan adalah mata pelajaran sosial (yang mengutamakan teori dan pengamatan) makanya akan menciptakan suasana kelas yang berisik karena mereka dituntut untuk pandai berbicara.

Ciri-ciri lain yang terbentuk dari pengklasifikasian IPA dan IPS adalah anak-anak IPA lebih unggul dibidang akademik ketimbang anak-anak IPS. Salah satu Survey membuktikan bahwa hampir 80% Sarjana Ekonomi yang dilahirkan oleh Universitas Indonesia berasal dari latar belakang IPA di SMAnya dan kurang di SMAnya (inilah penyebab terjadinya penyimpangan dari alasan utama pengklasifikasian Ilmu IPA dan IPS yaitu menciptakan orang yang ahli dibidangnya). Dari hasil survey tersebut membuktikan bahwa anak-anak IPA bisa menguasai ilmu yang dipelajari dari anak-anak IPS sedangkan anak-anak IPS belum tentu mampu menguasai ilmu yang dipelajari anak-anak IPA. mengapa demikian ?
Alasan Utamanya : IPA mempunyai kepanjangan ILMU PENGETAHUAN ALAM. Jadi seluruh objek yang dipelajari IPA pada hakikatnya adalah makhluk hidup, SDA, teknologi yang ada dimuka bumi ini serta hubungan sosial antar manusia dan permasalahan sosial (karena manusia bertempat tinggal dibumi, sedangkan keseluruhan kekayaan, benda, dan makhluk yang ada dibumi adalah objek dari IPA). Sedangkan IPS hanya mempelajari sebatas hubungan manusia dan permaslahan sosial yang timbul akibat tingkah laku manusia.

Alasan Pelengkapnya : Sebagian besar ilmu pengetahuan yang ada didunia ini, pasti ada hitung- hitungannya. Masalah ini dengan mudah dapat diselesaikan oleh anak- anak IPA karena hampir seluruh ilmu pengetahuan yang termasuk IPA mengutamakan perhitungan sehingga orang-orang IPA terbiasa berhitung ketimbang orang IPS.

Itulah beberapa penjelasan tentang IPA dan IPS dari segi kekurangan, kelebihan dan masalah yang terjadi akibat pengklasifikasian ilmu tersebut. Namun didalam hati saya, ada sesuatu hal menganjal yang membuat saya penasaran (walaupun sempat tertawa) tentang pernyataan bahwasannya IPS merupakan ilmu sosial (menurut sebagian orang ilmu tidak pasti atau sering dianalogikan “1+1 tidak sama dengan 2 itulah IPS”). Saya merasa tidak setuju atas pernyataan tersebut, baik saya akan mengutarakan ketidaksetujuan saya atas pernyataan tersebut.

Saya adalah calon Sarjana ekonomi jurusan Manajemen Keuangan di Universitas Swasta di Jakarta, Alhamdulillah saya bersyukur mengambil jurusan tersebut sebab saya akan meluruskan pernyataan yang timbul dimasyarakat bahwasannya IPS merupakan ilmu sosial (bukan Ilmu pasti). Pada semester 2 dan 3 saya mendapatkan mata kuliah Manajemen Keuangan I dan II. Pada Chapter TIME VALUE OF MONEY saya mendapatkan banyak ilmu didalam chapter tersebut, tapi saya berkesimpulan bahwa ada dua hal yang saya dapatkan. Yang pertama mata kuliah Manajemen Keuangan merupakan ujung tombak kekuatan Ekonomi Konvensional karena disitu menjelaskan peranan bunga (Interest) didalam suatu perekonomian. Yang kedua saya menyatakan bahwasannya IPS merupakan ilmu pasti bukan ilmu sosial.

Dari dua hal yang saya dapatkan setelah saya belajar chapter TIME VALUE OF MONEY di mata kuliah Manajemen Keuangan I dan II, saya akan menjelaskan hal yang kedua tentang pernyataan saya yang menyatakan bahwa IPS bukan ilmu sosial tapi ilmu pasti. Berikut contoh soal TIME VALUE OF MONEY :
FUTURE VALUE ANNUITY =
Pak Dinar menabung sebesar Rp.10.000.000,- di Bank Century setiap akhir tahun, dengan bunga 8%. Berapakah jumlah uang pak Dinar pada 5 tahun yang akan datang ?

Dik : PMT (cicilan) = Rp.10.000.000,-
r (bunga) = 8%
n (tahun) = 5 tahun

Dit : FVn = ?
jawab :
FVn = PMT * FVIFAi,n
FV(5th) = 10.000.000 * FVIFA (8%)(5th)
FV(5th) = 10.000.000 * 5,867
FV (5th) = Rp. 58.670.000,-

cat : 5,867 didapatkan dari tabel Time Value of Money (setiap buku Manajemen Keuangan pasti terdapat tabel tersebut baik dihalaman depan maupun belakang). Tabel itu berisikan berbagai macam tingkat bunga dari 1%-50% (dibagian atasnya) dan tahun dari 1th-50th dibagian kirinya). Untuk mendapatkan angka 5,687 tinggal menghubungkan dengan penggaris atau jari tahun ke-5 dan diatasnya cari 8% pasti akan menemukan angka tersebut.

Dari ilmu yang saya dapatkan di mata kuliah ini saya berkesimpulan bahwa IPS bukan ilmu sosial melainkan ilmu pasti sebab seluruh soal TIME VALUE OF MONEY pasti dapat menebak dengan akurat berapa jumlah uang yang kita tabung di bank baik tahun lalu maupun tahun yang akan datang (alias hasil/jawaban yang kita dapatkan pasti hasilnya sudah pasti/tetap tidak dapat berubah apabila terjadi kondisi sosial tertentu) . Kalau anda masih belum percaya akan pendapat saya, saya akan mengambil contoh lagi. Di semester 3 saya mendapat mata kuliah ASPEK HUKUM DALAM BISNIS. Mata kuliah ini menjelaskan tentang hukum-hukum yang mengatur kegiatan bisnis baik domestik maupun internasional. Contohnya di Indonesia, hukum bisnis di Indonesia masih menggunakan KUHD (Kitab Undang-undang Hukum Dagang) dan KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana/Perdata) buatan Belanda dan isi dari kitab-kitab hukum tersebut TIDAK BOLEH DIRUBAH HANYA BOLEH DIREVISI (DIPERJELAS MAKNANYA TANPA MENGHILANGKAN MAKNA ASLINYA) SAJA karena sudah ketetapan dari sananya. Saya pernah bertanya kepada Dosen mata kuliah tersebut kenapa Indonesia masih menggunakan hukum Belanda bukan menciptakan hukum sendiri (misalnya hukum Indonesia apalagi lebih bagus memberlakukan hukum Islam) sedangkan di UUD 1945 pasal 2 ayat 1 menjelaskan bahwasannya Indonesia adalah Negara Hukum, bagaimana bisa dikatakan negara Hukum, membuat hukum saja tidak becus malahan nyontek hukum negara jajahan seharusnya pasal tersebut direvisi menjadi Indonesia adalah Negara Hukum Belanda. Tapi sayangnya pertanyaan saya tidak bisa dijawab (mungkin dosennya tidak mau sombong kali). Dari beberapa contoh diatas apakah anda masih menganggap bahwa IPS adalah ilmu sosial/tidak pasti ? Sudah jelas ilmu didunia ini harus pasti kalau tidak pasti akan ditinggalkan oleh manusia sebab buat apa dipelajari toh kebenaran dari ilmu tersebut masih tidak pasti alias keraguan-raguan alias “abu-abu” atau dengan istilah jenis kelamin banci (tidak jelas apa pria atau wanita). Tapi kalau anda masih bersih keras menganggap IPS adalah ilmu sosial/tidak pasti ya tidak apa-apa, kita bebas berpendapat apalagi dizaman demokrasi saat ini (katanya). Yang jelas saya sebagai penulis menganjurkan kepada pembaca dan penggemar notes LIBEROS SARAGIH sekalian untuk mempelajari, memahami dan menerapkan ilmu agama Islam karena ilmu tersebut bukan termasuk pengklasifikasian ilmu IPA atau IPS sebab didalam kitab suci Al-Quran menjelaskan tentang hubungan antar manusia dan proses terjadinya alam semesta, hujan, manusia, dan kejadian alam lainnya. Tapi ilmu agama Islam adalah satu-satunya ilmu yang paling hebat ketimbang IPA dan IPS karena ilmu tersebut mempelajari hubungan makhluk dengan sang khalik sedangkan IPA dan IPS tidak mempelajari hal demikian, apalagi mempelajari, memahami, mengaplikasikan ilmu agama hukumnya fardhu ain sedangkan mempelajari, memahami IPA dan IPS hukumnya Fardhu Kifayah. UNTUK ITU MARILAH KITA PELAJARI, MEMAHAMI, DAN MENGAPLIKASIKAN ILMU AGAMA ISLAM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s