RAMA dan Shinta

Posted: Oktober 21, 2010 in Uncategorized
Tag:

Disaat ufuk terbit dari timur, hiduplah dua orang sejoli. Mereka saling mencintai satu sama lain, saking cintanya mereka lupa mandi, lupa makan bahkan kadang-kadang lupa nama orang tua mereka masing-masing. Sepasang merpati ini bertemu disebuah taman yang indahnya bagaikan Mesopotamia dan bahkan menurut pandangan orang-orang awwam indahnya bagaikan Heaven in the world. Sang merpati jantan telah melihat keelokkan kecantikan tubuh merpati betina sejak 1 tahun yang lalu dan akhirnya, Merpati jantan menyatakan cintanya dibawah pohon yang rindang di taman yang mereka sama-sama bilang sebagai heaven in the world (alias dibawah pohon beringin ditaman sekolah mereka).

Merpati jantan itu bernama Rama Sedayu Alam. Seorang rupawan siswa SMA, idaman para dara-dara manis disekolahnya. Seorang siswa idaman guru-guru sekolahnya, bukan idaman dari segi kecerdasan intelektualnya melainkan kata-katanya yang ramah tamah saat berbicara kepada orang yang lebih tua. Namun dikalangan anak tongkrongan sekolah, Rama seorang playboy, gauler (sebutan anak-anak gaul dimasanya), rockker, rege, tapi kadang-kadang dangdutmania. Hampir seluruh kehidupan-kehidupan bebas, terikat, malam, siang, pagi, dst sudah dijajalinnya namun sekarang dia bukan seorang playboy lagi karena dia telah menemukan separuhnya ruhnya yaitu kekasih idamannya bernama Shinta Purwaningsih.

 

Shinta (merpati betina yang dimaksud) adalah seorang siswi SMA (satu sekolah dengan Rama) yang cantik, sexy, centil, bahenol, bohai, trendy, dan sedikit phedophil (kata beberapa orang sich). Dia adalah anak seorang Kiai yang ternama di sekitar rumahnya. Wadon yang satu ini pada saat disekolah maupun saat bertemu orang tuanya, dia berperilaku sebagai wanita timur yang apa adanya (sopan santun, ramah tamah, dsb) walaupun dia belum memakai kerudung (jilbab atau sejenis penutup kepala). Rupanya, itu hanya kedok semata, Shinta bergaul dilingkungan luar (selain sekolah dan rumah) terkenal dengan wanita yang bebas, bebas meminum minuman keras, merokok, nongkrong-nongkrong dipinggir jalan, aktif di diskotik, kafe, karokean dan pernah mengunjungi rumah remang-remang. Namun setelah bertemu Rama, dia mengurangi aktifitasnya (kalau nongkrong sich wajib sama Rama) karena hari-harinya selalu bersama Rama, TIADA HARI TANPA RAMA.

 

Siang telah tiba, sekolahpun telah bubar, namun ada beberapa siswa-siswi sekolah tersebut yang belum pulang (atau nongkrong) ke rumah. Mereka bernama Ridho Pangkali (Ridho), Sofyan Mustaqim (Sofyan),  Sugeng Djojohadikusumo (Sugeng), Mustika Indah Permata (Indah), Fira Aurellia (Aurel) dan Frida Nostalgia (Frida). Keenam siswa-siswi ini merupakan pengurus ROHIS (Rohani Islam) disekolahnya. Mereka memang sering pulang paling lama ketimbang siswa-siswi yang lain, bukan untuk ngerumpi hal-hal yang bersifat tidak benar (gosip) melainkan mereka pergi ke masjid sekolah untuk merapatkan acara-acara ROHIS yang akan dilaksanakan sesuai program kerja. Kebesokkan harinya Indah, Aurel dan Frida bertemu dengan Shinta, namanya cewe ABG apalagi teman sekelas biasalah ngomongin soal cowo, pelajaran, tentang sekolah, guru, dsb. Pada saat pembicaraan berlangsung, Aurel mengajak Shinta untuk ikut acara ROHIS minggu ini tentang talkshow dengan tema “kenakalan remaja zaman sekarang”. Namun Shinta menolak dengan nada yang sedikit tinggi karena menurutnya “ngapain gw ikut acara begituan, ngantuk, bête, kayak ibu-ibu haji mendingan gw shopping sama Rama sekalian nonton bioskop”. Dengan hati yang sedikit sedih ketiga wanita tersebut menyelesaikan pembicaraannya dengan Shinta, pembicaraan ditutup dengan salam. Bel pulang telah berbunyi, seperti biasa pengurus ROHIS pulang agak lama ketimbang siswa-siswi yang lain.

 

3 jam setelah bel pulang berbunyi, Aurel melangkahkan kakinya keluar dari gerbang sekolah untuk naik angkutan umum yang menuju kearah rumahnya. Pada saat berjalan, Aurel melihat dari jauh, dipersimpangan jalan sana dia melihat orang yang mirip dengan Shinta dan Rama serta segerombolan anak-anak tongkrongan lainnya yang sedang mabuk dan merokok. Dalam peristiwa tersebut, hati kecil Aurel berkata “masa sich mereka adalah Shinta dan Rama ? Bukannya mereka adalah siswa-siswi yang sangat dicintai oleh guru ? Apalagi Shinta, diakan anak seorang Kiai yang tersohor ?  AH… mana mungkin”. Dalam perjalanan pulang menuju rumah tercinta yang pastinya juga naik angkot tercinta, dihati kecil Aurel masih membahas peristiwa tadi dan akhirnya dia memutuskan untuk menanyakan hal tersebut ke Shinta besok disekolah. Keesokkan harinya, pada saat istirahat, Aurel menemui Shinta dan menanyakan hal tersebut apakah benar atau salah tapi Shinta menanggapinya dengan becanda, :”masa sich gw, mana mungkinlah, gwkan siswi yang dikenal oleh guru-guru apalagikan loe tahu sendiri, gwkan anak seorang Kiai, mana mungkin!”. Mendengar  pernyataan Shinta, Aurel dengan hati yang lega percaya dengan pernyataan tersebut. 4 hari kemudian, Indah melihat Shinta dan Rama ditaman sekolah, berdua-duaan dan saling mesra bagaikan sepasang kekasih, Indah merasa kaget setahu dia dan hampir seluruh siswa-siswi disekolahnya mereka berdua belum pernah menjalin kasih (pacaran) apalagi Shinta dengan lebel anak Kiai pastinya tidak akan diajarkan hal tersebut. Melihat hal tersebut, Indah menemui Aurel dan Frida dan menceritakan peristiwa yang dilihat oleh mata dan kepalanya sendiri. Akhirnya, mereka bertiga berinisiatif untuk berkunjung kerumah Kiai Maja (ayah dari Shinta) dan menceritakan hal tersebut kepada Kiai setelah pulang sekolah.

 

Setelah pulang sekolah, ketiga wanita sholehah tersebut bergegas kerumah kiai Maja untuk menceritakan perilaku anaknya selama ini (sesuai dengan fakta yang mereka temukan dilapangan). Sesampainya dirumah kiai Maja, mereka bertiga disambut dengan hangat layaknya bintang film Hollywood oleh Kiai Maja dan istrinya. Hampir seperempat jam berlalu, mereka bertiga menyatakan maksud dan tujuan mereka berkunjung kesini selain silahturrahim. Indah yang mengkomandoi pembicaraan kepada Kiai Maja tentang perilaku Shinta selama ini. Mendengar hal tersebut, Kiai Maja sangat terkejut dan sempat ada pikiran bahwasannya anak-anak ini (Indah, Aurel, Frida) berbohong, namun dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, Kiai Maja mengucapkan terima kasih atas informasinya “tapi saya terus terang belum percaya sepenuhnya, insya Allah saya akan mencari kebenaran secepatnya” kata Kiai Maja. Setelah Indah, Aurel, dan Frida pulang dari rumah Kiai Maja, Kiai Maja dan istrinya langsung beranjak kekamar Shinta untuk mencari bukti otentik. Rupanya benar, Kiai Maja menemukan sebatang lisong (rokok) dan rok mini dilemari Shinta. Dengan hati yang kaget dan jengkel, Kiai Maja hampir pingsan melihat bukti tersebut dan beliau akan menanyakan hal ini nanti malam oleh Shinta (memang akhir-akhir ini Shinta pulang sekolah agak malam alasannya belajar kelompok, tapi belajar kelompok kok sering). Malampun telah tiba, gadis aduhai (Shinta) tersebut pulang dengan dandanan yang sedikit berantakan. Setelah mandi dan ganti pakaian, Shinta dipanggil oleh ayahnya untuk berbicara sebentar, Shinta sempat menolak, alasannya mau tidur, capek baru pulang tapi dia menghargai ayahnya dan dia menemui ayah dan umminya diruang tamu rumahnya. Kiai Maja mengintrogasinya dari alasan Shinta sering pulang agak malam sampai informasi yang disampaikan oleh Indah, Aurel dan Frida tentang perilaku negatif yang dilakukannya selama ini. Dengan nada yang ogah-ogahan dan jawaban yang tengil, Shinta membantah itu semua “itu hanya gossip belaka”katanya. Wajah Kiai Maja agak sedikit memerah dan puncak kemarahannya, Kiai Maja memukul meja dan dengan nada yang keras dia menunjukkan sebatang lisong dan rok mini yang ditemukannya dikamar Shinta. Shinta sempat kaget dan diam sejenak serta keluar keringat dingin dari dahinya tapi dia tetap berpegang teguh bahwasannya sebatang lisong dan rok mini bukan miliknya melainkan milik temannya. Mendengar jawaban anaknya yang ngawur, Maja tetap menaikkan nada pembicaraannya dan ending dari kemarahan Maja adalah mendaratnya tangannya dipipi Shinta. Shinta langsung nangis dan lari kekamarnya dengan membanting pintu kamarnya.

 

Keesokkan paginya disekolah, Shinta dengan wajah yang memerah dan berjalan cepat ingin menemui Indah, Aurel dan Frida. Akhirnya Shinta menemui ketiga wanita tersebut, dengan memanggil secara berteriak salah satu nama dari ketiga wanita tersebut (Indah…………!), Shinta menghampiri ketiga wanita sholehah dan mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu ingin mendaratkan tangannya ke pipi Indah. Pada saat tangan Shinta mau mendarat kepipi Indah tiba-tiba terdengar suara dari belakang Shinta “ada apa ini ?” Rupanya itu suara ibu Wati (salah satu guru). Ibu Wati menyuruh siswa-siswi bubar untuk masuk kelas masing-masing dan Shinta mengurungkan niatnya untuk menggampar Indah. Setelah Bel pulang berbunyi, Shinta berkeinginan menemui Rama di basecamp (tempat mereka nongkrong) sekalian Shinta ingin tinggal selamanya dengan Rama (alias minggat dari rumah). Dalam perjalanan menuju basecamp, Shinta mengalami kecelakaan yang cukup parah yaitu dia keserempet motor dan kakinya hampir mau patah (retak) namun yang menyerempet langsung kabur entah kemana. Pada saat Shinta berteriak meminta tolong, tiba-tiba Frida mendengar jeritan tangisan Shinta dan membantunya berjalan menuju rumah Frida (kebetulan rumah Frida tidak jauh dari TKP). Dalam waktu bersamaan, di basecamp, Rama dan Jhony (salah satu teman tongkrongan Rama) lagi bermain judi. Pada saat permainan berlangsung, Rama bermain curang dan ketahuan dengan Jhony. Jhony menegur Rama dengan nada yang cukup tinggi tapi Rama menghiraukannya. “Pokoknya gw nggak mau nerusin lagi, loe mainnya curang” kata Jhony. “Apa loe bilang CURANG ? bilang aja loe kalah lawan gw” kata Rama. Setelah itu, Jhony naik darah dan akhirnya terjadi perkelahian yang sengit antara Rama dan Jhony yang dipimpin oleh wasit Mudjiono (kayak tinju aja). Setelah beberapa ronde telah dilewati, akhirnya Jhonny memenangkan pertandingan (perkelahian) dengan menyisakan pisau diperut Rama, kemudian Jhony dan Mudjiono langsung meninggalkan Rama yang tekapar tidak berdaya. Beberapa saat kemudian, Rama dibawa ke rumah sakit oleh warga sekitar dan dirawat sekitar 1 minggu lamanya.

 

(Kembali ke kondisi Shinta) Sesampainya dirumah Frida, Frida langsung membawa Shinta ketempat tidurnya dan lukanya-lukanya dicuci kemudian dikompres oleh air hangat supaya tidak infeksi. Setelah pertolongan pertama telah dilakukan, Shinta pun terbaring lesu dan melepaskan kelelahannya diranjang Frida (tidur). Pada saat Shinta tertidur, Frida langsung menelpon dr. Susi (dokter pribadi keluarga Frida) untuk memeriksa Shinta apakah lukanya perlu dirawat dirumah sakit sekaligus Frida memberi kabar kepada Kiai Maja dan istrinya (orang tua Shinta) bahwasannya Shinta mengalami kecelakaan dan sekarang sudah ada dirumah Frida. Sekitar 30 menit berlalu, dr. Susi tiba dirumah Frida dan langsung memeriksa Shinta. Pada saat diperiksa, Shinta terbangun dan menanyakan kabarnya apakah dirinya baik-baik saja atau tidak. Setelah pemeriksaan hampir selesai (hanya tinggal dr. Susi memberikan sarannya), tiba-tiba Kiai Maja beserta istri datang dan langsung menemui Shinta, Kiai Maja dan istri berdiri di pintu kamar Frida dan menanyakan kabar anaknya. “Bagaimana kabar anak saya dok ? Apa yang terjadi dengan dirinya?” Kata Kiai Maja. ‘Tenang pak, Alhamdulillah keadaan anak bapak baik-baik saja cuma tulang kaki kirinya mengalami keretakan sekitar satu bulan, insya Allah baru kembali normal. Saran saya mendingan Shinta dibawa kerumah sakit dan dirawat disana dan jangan lupa ditunggu ya pak ?” Kata dr.Susi. Dengan cepatnya Shinta menyambar pembicaraan, “Tidak mau, aku mau dirawat disini saja dan ditunggu sama Frida, please dok please !”. “Its okay, no problem but ente harus mengikuti peraturan yang berlaku yaitu setiap minggu harus check up ke rumah sakit dan dirumah latihan jalan, sementara ini kamu harus pakai kursi roda dulu”. Kata dr. Susi. Setelah dr. Susi beranjak pergi dari rumah Frida, Kiai Maja mengajak Shinta untuk pulang kerumahnya namun Shinta menolak mentah-mentah saran dari kiai tersohor tersebut. Frida langsung memotong pembicaraan Kiai Maja dengan Shinta, “Mohon maaf pak Kiai biar Shinta selama sebulan ini saya yang merawat, tapi jangan khawatir, walaupun orang tua saya selama tiga bulan kedepan tidak ada dirumah karena ada tugas dakwah di Australia, Insya Allah Indah dan Aurel juga membantu merawat Shinta disini”. “Syukron jazakallah nak atas bantuannya,  mudah-mudahan Allah membalas kebaikan antum dan teman-teman antum”. Kata Kiai Maja.

 

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, dan hari berganti hari, Frida, Indah, dan Aurel dengan rasa cinta kasih seorang sahabat Shinta dirawat dengan tulus  hingga setiap harinya mengalami kemajuan setahap demi setahap. Rasa cinta kasih dan tulus ketiga wanita sholehah ini melebihi rasa cinta kasih seorang suami terhadap istrinya. 5 hari kemudian,  Ada seorang tamu yang menurut Shinta tamu yang tak diundang, dia adalah wanita matang (dewasa) berpakaian muslim dengan jilbab dikepala dengan warna yang ngejreng. Dia bernama Caroline Injestsky (blasteran Rusia-Brebes). Pada saat dia mengucapkan salam didepan pagar rumah Frida, ketiga wanita sholehah ini menjawab salamnya dan menyambutnya dengan semangat dan hati yang gembira. Kemudian Aurel memperkenalkan Shinta kepada Caroline,  “Kak kenalkan, ini Shinta teman sekolah kita”. Langsung Caroline menjabat tangan Shinta dan menyebutkan namanya, “Caroline” kemudian Shinta menjawab, “Shinta”. “Bagaimana kabarnya, apa sudah mendingan?” Sahut Caroline. “Alhamdulillah baik-baik saja sudah cukup banyak kemajuan kok” Sambut Shinta. “ Silahkan duduk kak, sebentar lagi kita siap kok” Kata Indah. Kemudian dengan nada berbisik Shinta menanyakan ke Frida, “Frid, itu siapa ? Teman yaa, kok lebih senior ?”. Frida menjawab, “ Oh itu guru ngaji kita bertiga, kita ngaji setiap minggu dan biasanya ngaji disini, kenapa memang kamu mau ikut ?”. “Makasih dech, kapan-kapan aja”. Sahut Shinta. Selama Shinta menginap dirumah Frida, Caroline sering berkunjung kerumah Shinta baik menjenguk Shinta maupun mengaji dirumah Frida bersama para binaannya (Indah, Frida, Aurel). Suatu ketika Shinta mengintip pengajian Caroline, dan pada saat itu sedang membahas materi tentang pacaran dalam Islam. “Bahwasannya Islam tidak pernah mengajarkan pacaran karena pacaran adalah tindakan yang mendekati zinnah (wala takrabu zinnah) dan bisa menjadi faktor terkuat pemicu terjadi zinnah. Maksudnya pacaran dalam Islam adalah menikah dulu baru melakukan apa itu yang dimaksud dengan pacaran. Orang Islam yang melakukan pacaran berarti Islamnya dipertanyakan, karena larangan pacaran sudah jelas di Al-Quran wala takrabul zinnah yang artinya Jangan Mendekati Zinnah”. Kata Caroline. Mendengar hal tersebut, hati nurani Shinta tersentuh dan Shinta menangis atas kelakuannya selama ini. Pada saat hari yang ke-28, Shinta memanggil Frida karena ingin membicarakan sesuatu, “Frid aku minta maaf ya selama ini aku telah berburuk sangka dan berperilaku kasar kepada kalian bertiga, selama aku menginap dirumahmu banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Pelajaran yang terbesar adalah pengajian yang dipimpin oleh kak Caroline yang berlangsung dirumahmu, walaupun aku tidak ikut secara de facto tapi selama ini aku mengintip dan mendengarkan apa saja yang disampaikan oleh kak Caroline. Sekarang aku tobat, nanti pada saat masuk sekolah aku berjanji tidak akan mengulangi perilaku aku yang dulu dan yang lebih penting lagi aku akan berjilbab sampai umurku memisahkan aku dengan jilbabku”. Mendengar pernyataan Shinta, Frida langsung mengucurkan air matanya dan mengucapkan subbhanallah, “terima kasih ya Allah engkau telah menyadarkan temanku ke jalan yang benar”.

 

Sebulan telah berlalu, akhirnya Shinta telah sembuh dari penyakit yang membuatnya menuju hidayah Allah. Pada saat Shinta ingin memasuki kelas dengan jiwa dan dandanan yang baru, Rama menyapanya “Shinta ! Bagaimana kabarmu sayang, apa kamu sudah sembuh total”. Shinta menjawab, “ Alhamdulillah sekarang aku sudah sembuh total, katanya kamu juga mengalami kecelakaan ya, kamu juga sudah sembuh total. Oh ya Ma, aku mau ngomong serius sama kamu”. “Ngomong aja sayang ngak apa-apa kok” jawab Rama. Dengan hati yang sedu dan air mata yang berlinang-linang Shinta menyatakan sesuatu, “Selama ini kita telah melakukan hal yang salah, kita sudah menyusahkan dan melibatkan banyak orang dikehidupan pribadi kita. Banyak sekali dosa-dosa yang telah kita perbuat dari yang kecil hingga yang besar, untung saja Allah Swt tidak mencabut umur kita pada saat kita sedang berumuran dosa, berarti Allah Swt sayang kepada kita, kita disuruh tobat sehingga kita dapat masuk ke surganya. Aku sekarang sudah tobat Rama, aku tidak mau melakukan hal-hal bodoh yang selama ini kita lakukan dimasa lalu. Demi kebaikan kita, hubungan kita berakhir sampai disini karena Islam tidak mengajarkan hal pacaran karena pacaran sama dengan zinnah. Dengan kemurahan hati, tolong kamu mengkabulkan permohonan aku”. Kemudian Rama menjawab dengan logat cengengesan tapi sebal, “eh… baik kalau itu mau kamu, disangka kamu setia kepadaku, kamu pernah bilang kepadaku kamu mau hidup selamanya denganku, rupanya kesetiaanmu hanya sampai disini saja, KITA PUTUS SEKARANG JUGA”.

 

Bel sekolah telah berbunyi, tanda siswa-siswi pulang sekolah dan tanda pertama kalinya jalinan kasih Rama dan Shinta berakhir. Pada saat diparkiran sekolah, Rama melihat Ridho, Sofyan dan Sugeng sedang bersiap-siap untuk pulang sekolah. Dengan hati yang ngedumel dan perasaan yang kesal, Rama ingin memukul salah satu dari mereka bertiga karena dia beranggapan bahwa Shinta berubah karena ulah mereka semua. Dari jarak sekitar 1.5 meter Rama berteriak memanggil Ridho dan menghampirinya. Pada saat Rama menghampiri mereka bertiga, Ridho dengan muka polos menyapa Rama dengan senyuman, “Ada apa, Ma ?”. Tidak pikir panjang lagi, Rama mendaratkan gumpalan tangannya ke pipi Ridho sampai mengeluarkan sedikit darah dan Ridhopun terjatuh. Pada saat itu juga, Sofyan dan Sugeng melerai Rama, “Sabar-sabar ada apa nich, pakai pikiran yang jernih ?”. Kata Sugeng. “Loe semua brengsek, loekan yang membuat Shinta berubah. Awas loe ya  jangan ikut campur lagi urusan pribadi gw”. Kata Rama. Kemudian Rama meninggalkan mereka bertiga dengan mengendarai motor untuk pulang kerumah. Dalam perjalanan mengendarai motor, Rama mengingat masa-masa kelabunya bersama Shinta, dari shopping bersama, jalan bersama, nongkrong bersama, sampai-sampai tidur bersama (ups salah itu bohong). Saking keasyikkannya melamun, Rama lupa bahwasannya dia sedang mengendarai motor. Dia tidak memerhatikan jalan dengan baik. Tiba-tiba mobil menabrak motornya dan Rama terpelanting jauh entah kemana sampai-sampai kaki dan tangannya misah. Melihat peristiwa tersebut Ridho, Sofyan dan Sugeng membawanya ke rumah sakit terdekat sedangkan yang menabraknya lari kalang kabut (alias tabrak lari). Dalam seharian Rama tak sadar diri. Keesokkan harinya, Rama siuman dan dihadapan mukanya dia melihat Ridho, Sofyan dan Sugeng yang tak sabar menunggunya siuman. Menjelang beberapa waktu, Sofyan menjelaskan kepada Rama bahwa Shinta berubah bukan gara-gara kita bertiga melainkan dari diri dia sendiri. “Dia sudah insyaf karena mendengar pengajian yang berlangsung dirumah Frida pada saat dia sakit”. Kata Sofyan. Setelah Sofyan menjelaskan hal tersebut, Shinta, Indah, Aurel, dan Frida masuk menjenguk Rama dan Shinta membenarkan pernyataan Sofyan tadi dengan ditambahkan sedikit siraman Rohani kepada Rama. Setelah sembuh Rama berubah total, dia menjadi seorang muslim yang benar-benar muslim yang taat kepada seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ini semua gara-gara kecelakaan yang dialaminya dan yang terpenting adalah siraman rohani yang dilontarkan dari mulut manis kekasih lamanya yang membuat hati nuraninya bergetar. Kekasih lamanya siapa lagi kalau bukan Shinta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s