Hikmah ‘Idul Adha : Menghilangkan Sifat Binatang Manusia

Posted: November 7, 2010 in Uncategorized
Tag:

Sering kali kita (atau minimal saya pribadi), mendengarkan orang-orang jikalau mereka saling mencaci-maki atau kesal terhadap seseorang. Maka mereka akan mengeluarkan kata-kata seperti “dasar anj*ng, ba*i, mon*et, k*dal, atau semacamnya”. Di satu sisi mungkin sangat amat terlihat tidak santun, dikarenakan kita manusia yang seharusnya sangat menjunjung tinggi sebuah nilai apalagi sebuah nilai kesantunan. Tapi di sisi lain mungkin ada benarnya juga celotehan dari mereka semuanya mengenai hal itu??

Dahulu kala ketika saya masih di bangku SMA kelas sepuluh tepatnya dalam pelajaran IPA Biologi. Dikatakan bahwa ada dua kerajaan besar makhluk hidup (tolong kalau salah dikoreksi ya, maklum anak IPS soalnya) ada yang namanya kingdom animalia, dan kingom plantae. Dan ternyata di dalam klasifikasi hal makhluk hidup tersebut. Manusia dimasukkan kedalam Kingdom animalia atau spesies hewan dalam sub yang paling kecil bernama homo sapiens. Sampai sekarang saya masih berpikir bahwa apakah benar manusia ada di kelompok hewan itu? Atau mungkin manusia bukan termasuk dari kedua kelompok tersebut?. Saya bukanlah penganut teori apriori semacam Darwinisme dan kawan-kawannya, yang mengatakan bahwa manusia berasal dari hasil evolusi kera. Sampai sekarang saya masih sangat menolak dan anti terhadap teori Sun Go Kong tersebut. Para pemikir pun bingung menterjemahkan arti manusia secara definitif. Hingga beberapa dari mereka berpendapat bahwa al insan al hayawanu nathiq “manusia adalah binatang yang berpikir” (atau dalam istilah Immanuel Kant manusia adalah hewan yang rasionil, dan juga Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah hewan komunal). Menurut mereka semua bahwa berpikir adalah salah satu diferensiasi yang sangat mendasar antara manusia dengan binatang. Jadi dalam bahasa logika sederhananya adalah ketika manusia tidak menggunakan akalnya untuk berpikir (mengenai hal benar atau salah) maka manusia tersebut sama dengan seekor binatang.

Menariknya juga adalah ketika banyaknya dunia manusia yang bersinggungan dengan dunia hewan. Banyak sekali siluman dari binatang, akan tetapi jarang terdengar atau bahkan tidak ada siluman yang berasal dari tumbuhan. Contoh babi ngepet, buaya putih, kera sakti, atau bahkan kura-kura ninja, mereka semua adalah siluman yang mengambil bentuk dari binatang. Bahkan tak jarang pula beredar kisah-kisah yang pada akhirannya manusia tersebut dikutuk dan berubah menjadi binatang. Seperti lutung kasarung, pangeran kodok, swan princess, si cantik dan si buruk rupa, bangsa Yahudi (Al Baqoroh 65) paling-paling hanya Malin Kundang yang agak sedikit “beruntung” ia hanya dikutuk oleh bundonya menjadi patung bukan binatang terlebih patung binatang

Sesuai takdir Allah SWT, pada beberapa waktu yang lalu. Saya berkesempatan mendengarkan sebuah kalimat dari seorang Kiyai kampung yang boleh jadi membuat saya menjadi berpikir kembali mengenai manusia dan hewan ini. Beliau bilang bahwa boleh jadi didalam diri manusia bersemayam sifat-sifat binatang. Tanpa sadar mungkin di dalam diri kita (manusia) bersemayam sifat-sifat kebinatangan bahkan melebihi binatang. Sebagai contoh sederhana adalah sifat kerbau (umumnya) bahwa kerbau jika sudah kenyang makan maka ia akan tidur. Tidak ada aktivitas lagi setelah itu, suatu hal yang amat sangatlah tidak produktif. Adakah sifat tersebut di dalam diri kita? Atau mungkin sifat monyet yang ada dalam diri kita, yang ia sulit sekali dikendalikan atau diatur. Lihatlah sekeliling anda, coba anda perhatikan bagaimana sulitnya si tukang topeng monyet mengatur dan memberikan arahan kepada sang monyet. Bahkan tak jarang si tukang topeng monyet menarik-narik rantai besinya tersebut dengan amat sangat kencang. Hingga menimbulkan rasa iba kita sebagai manusia terhadap monyet yang binatang tersebut. Ataukah sifat anjing?, yang ia sangat suka menjilat terhadap orang yang ia sukai, tetapi sangat galak terhadap orang yang ia tidak sukai. Atau sifat babi yang sudah rakus malas pula?. Maka sebuah hal yang sangat wajar apabila dari hal-hal tersebut munculah perumpamaan sifat manusia dengan nama terlebih sifat binatang. Seperti kucing garong, buaya darat, ular berbisa, serigala berbulu domba, tikus (koruptor), bajing loncat, kutu buku, kadal buntung, dan sebagainya.

Bahkan dalam Qur’an pun Allah juga membuat perumpamaan-perumpamaan (tamtsil) yang menggunakan binatang (Al Baqarah 26). Dalam surat Al Baqoroh 171 “Dan perumpamaan (penyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu, buta maka mereka tidak mengerti”. Atau dalam surat lain Al A’roof 176 “Dan kalau kami menghendaki sesungguhnya kami tinggikannya dengan ayat-ayat itu. Tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya dijulurkannya lidahnya jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga) …..” dalam surat Al Jumu’ah ayat 5 Allah juga berfirman “Perumpamaan orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal …..” dan di ayat lain dalam surat Al ‘roof 179 “ ……mereka mempunyai hati tapi tidak untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga tidak untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah) mereka seperti hewan ternak bahkan lebih sesat lagi”

“…bahkan lebih sesat lagi” kata Allah. Dapat dikatakan bahwa manusia dapat melebihi binatang dalam kadar kesesatannya. Di zaman yang katanya modern ini banyak kita temui perilaku-perilaku aneh bin nyeleneh dalam kehidupan manusia. Mereka berkata bahwa perilaku suka atau cinta terhadap sesama jenis bukanlah sebuah hal yang diluar kewajaran, mereka mengatakan bahwa hal itu (biseks, homoseks) adalah sebuah variasi seksual. Perilaku mereka sudah jauh melebihi seekor binatang na’udzubillah. Setampan-tampannya monyet jantan maka ia tidak pernah diketahui ia disukai atau kawin dengan monyet jantan yang juga sangat tampan lainnya. Pernahkah anda mendengar ada seekor binatang yang homo atau lesbian??. Sewaktu kita masih kecil mungkin kita sering iseng melihat hewan-hewan yang akan dikurbankan terkhusus kambing. Memang mereka (kambing jantan) terkadang suka melakukan hal-hal yang dapat kita katakan sebuah perilaku yang menyimpang. Akan tetapi wajar menurut logika secara sederhana, dikarenakan memang ditempat itu tidak ada kambing betina. Seandaikan di tempat tersebut ada seeokor kambing betina, maka 100% sangat yakin sekali bahwa peristiwa menghinakan itu tidak akan pernah terjadi.

Ada juga peribahahasa yang mengatakan bahwa “sebuas-buasnya seekor harimau tetap ia tidak akan pernah memakan anaknya sendiri”, berbeda dengan manusia. Sering kita lihat berita kriminal di televisi atau media lainnya. Dikabarkan seorang ayah tega membunuh anaknya hanya karena masalah harta atau sebaliknya anak yang membunuh kedua orang tuanya. Ada juga seorang ayah yang tega mencabuli anak kandungnya atau anak tirinya. Sungguh sebuah ironi yang sangat memilukan dan juga hal yang memalukan. Karena manusia adalah makhluk Allah yang seharusnya menjadi khalifah atau wakil Allah di bumi akan tetapi perilakunya justru menunjukkan hal-hal yang sebaliknya.

Sebentar lagi kita umat muslim akan merayakan sebuah peristiwa besar yaitu hari raya idul adha. Hari yang mana orang melakukan ibadah haji rukun Islam yang kelima, dan juga ibadah berkurban (Al Kautsar). (Mengingat masa kecil kembali) Dulu ketika saya masih kecil saya berpikir bahwa apakah Allah seperti berhala-berhala yang memerlukan semacam sesajian dengan kita (umat muslim) memotong seekor hewan pada hari raya idul adha tersebut?? Menariknya dewasa ini, jawaban tersebut saya temukan dalam firman Allah Ta’ala dalam surat Al Hajj 37 “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada Allah adalah ketaqwaan kamu……”. Perlu kita cermati adalah hanya ketaqwaan kita yang sampai kepada Allah Ta’ala, Karena mungkin ada kaitannya sifat taqwa dengan sifat binatang. Sifat taqwa bisa muncul apabila kita menghilangkan sifat kebinatangan yang ada didalam diri kita. Sahabat Umar bin Khottob pernah berkata “at taqwa hiya al masy-yu fil ghobati bil-hadzar” (taqwa adalah berjalan di hutan dengan hati-hati). Taqwa adalah kehati-hatian dalam kehidupan ini dikarenakan takutnya perasaan tergelincir kepada hal-hal yang bersifat haram (Syahr ibn Hausyab). Intuisi manusia sebagai makhluk Allah (mengenai kewajibannya sebagai makhluk) berjalan beriringan dengan sifat-sifat ketaqwaan.

Berkurban dapat menjadi sarana untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam diri manusia. Karena didalam ibadah tersebut kita secara simbolik telah menyembelih atau membunuh (sifat-sifat) binatang yang mungkin masih bersemayam dengan nyaman dalam tubuh kita sendiri. Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran) yaitu orang-orang yang tidak mengerti (Al anfal 22). Karena percayalah bahwa seekor kambing tidak akan pernah mampu untuk membedakan yang mana rumput milik tuannya dan mana yang bukan. Berbeda dengan manusia, mereka mampu dan bahkan seharusnya mampu untuk mengetahui mana yang memang haknya dan yang mana yang bukan haknya.

Wa Allahu A’lam bi Showab
Al Haqq Min Rabbikum
Wal ‘afwu minkum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s