Alkohol Dalam Obat Batuk

Posted: Desember 27, 2010 in Uncategorized
Tag:

Salah satu sumber permasalahan dalam melihat kehalalan obat adalah penggunaan alkohol, baik sebagai bahan obat maupun sebagai pelarut. Obat batuk adalah yang paling sering memanfaatkan bahan tersebut. Sebenarnya bagaimana status penggunaan alcohol dalam obat batuk berikut?

Batuk merupakan salah satu penyakit yang cukup sering dialami banyak kalanga…n. Sehingga batuk diindentifikasi sebagai reaksi fisiologik yang normal. Batuk terjadi jika saluran pernapasan kemasukan benda-benda asing atau juga karena produksi lender yang berlebih . benda asing yang yang biasanya sering masuk ke dalam saluran pernapasan adalah debu. Gejala sakit tertentu seperti asma dan alergi merupakan salah satu sebab kenapa batuk terjadi. Jika penyakit ini kambuh maka anda akan mengalami batuk.
Obat batuk yang beredar di pasaran saat ini cukup beraneka ragam. Baik obat batuk berbahan kimia hingga obat batuk berbahan alami atau herbal. Jenisnya pun bermacam-macam mulai dari sirup, tablet, kapsul hingga serbuk (jamu). Terdapat persamaan pada semua jenis obat batuk tersebut, yaitu sama-sama mengandung bahan aktif yang berfungsi sebagai pereda batuk. Akan tetapi terdapat pula perbedaan, yaitu pada penggunaan bahan campuran/penolong. Salah satu zat yang sering terdapat pada obat batuk jenis sirup adalah alkohol.
Temuan di lapangan diketahui bahwa sebagian besar obat batuk sirup mengandung kadar alkohol. Sebagian besar obat batuk baik dari dalam negeri maupun luar negeri menggunakan bahan ini dalam produknya. Beberapa produk memiliki kandungan alkohol lebih dari satu persen dalam setiap volume kemasannya, seperti Woods’ Vicks Formula 44, OBH Combi, Benadryl, Alphadryl Expectorat, Alerin, Caladryl, Eksedryl, Inadryl hingga Bisolvon.
Penggunaan alcohol dalam obat batuk merupakan polemic tersendiri, terutama di kalangan umat islam. Bolehkah alcohol digunakan dalam obat batuk? Apakah sama statusnya dengan alcohol pada minuman keras? Sebenarnya apa sih fungsi alcohol ini?
Menurut pendapat salah seorang pakar farmasi Drs. Chilwan Pandji, Apt.,Msc., Fungsi alcohol itu sendiri adalah untuk melarutkan atau mencampur zat-zat aktif, selain sebagai pengawet agar obat lebih tahan lama. Dosen Teknologi Industri Pertanian IPB itu menambahkan, “Berdasarkan penelitian di laboraturium diketahui bahwa alcohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk, sehingga dapat dikatakan bahwa alcohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang kita alami.” Sedangkan salah seorang praktisi kedokteraan Dr. Dewi mengatakan, “Efek ketenagan akan di rasakan dari alcohol yang terdapat dalam obat batuk, yang secara tidak langsung mungkin akan menurunkan tingkat frekuensi batuknya, akan tetapi bila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan ketergantungan pada obat tersebut.”
Darurat?
Obat yang diminum pada dasarnya tidk berbeda dengan makanan, sebab keduanya sama-sama dikonsumsi oleh tubuh melalui mulut. Para tokoh perintis ilmu kedokteran seperti Hipokrates ataupun ibnu Sina (Avisena) mengatakan bahwa obatv adalah makanan dan makanan adalah obat. Oleh karena itu, antara obat dan makanan tidak bias dipisahkan. Dalam Al-Qur’an dan Hadtis di jelaskan bahwa mengonsumsi makanan yang berstatus halal dan thoyyib telah menjadi bagian keyakinan yang tidak bisa ditoleransikan. Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan mengenai aturan maupun batasan tentang makanan dan minuman yang halal serta thayyib (Namun entah kenapa kondisi umat sekarang ini tidak berhati-hati dalam hal yang orentasi pada halal dan haram yang lebih spesifik, antara Kull’iah dengan Juz’iah). Dalam hadits Baihaqi dijelaskan bahwa “Allah tidak menjadikan penyembuhanmu dengan apa yang di haramkan akan kamu”. Sehingga dengan kata lain yang haram tidak dapat dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit.
Permasalahanya sekarang adalah minimnya pengetahuan masyarakat akan segi kehalalan obat-obatan. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan masyarakat akan kandungan zat yang terkandung dalam obat-obatan serta adanya penafsiran bahwa penggunaan alkohol dalam obat merupakan hal yang sah-sah saja karena bersifat darurat(tahu kan kondisi darurat itu seperti apa). Komisi fatwa MUI pernah menyatakan obat-obatan yang belum jelas segi kehalalannya “diperbolehkan” tapi dengan catatan untuk dikonsumsi selama belum ada alternative lain dan dengan alas an bahwa apabila tidak mengkonsumsi obat tersebut akan mengakibatkan kematian.ini diperkuat oleh pendapat Prof. Dr. Hj.Aisjah Girindra yang mengatakan bahwa “pemakaian obat batuk yang mengandung alkoholdibolehkan jika tidak ada obat lainnya.” Ini sama hukumnya dengan kaidah memakan barang haram yang di bolehkan dalam kondisi darurat. Namun, apakah saat ini tidak ada alternative oleh batuk yang tanpa alkohol?
Sebenarnya saat ini telah banyak ditemukan alternative yang memiliki fungsi sama dengan obat batuk beralkohol. Drs Chilwan Pandji Apt Msc. Menyebutkan bahwa bahan obat herbal. Obat herbal ini tidak membutuhkan alcohol dalam pelarutan zat-zat aktifnya. Tetapi dapat di mengunakan air sebagai bahan pelarut. Bahan alternative ini lebih aman di gunakan sebab pada dasarnya bahan alami tumbuhan ini tidak berbahaya, dan dari segi kehalalanya sudah lebih dapat dibuktikan.
Dari sini sebenarnya aspek darurat kurang tepat diterapkab untuk obat batuk beralkohol. Sebagai umat muslim yang menghendaki adanya rasa aman dan nyaman dalam mengonsumsi obat sebaik lebih teliti dan lebih selektif lagi dalan mengkonsusmi obat. Selama kita belum mengetahui secara jelas status kehalalannya maka yang sebaiknya kita hindari. Apabila jika masih ada obat alternative lain yang sudah jelas aman dan halal bagi kita.
Status darurat dalam penggunaan alcohol pada obat batuk ini menjadi sangat dipertanyakan, terutama dikaitkan dengan status kehalalannya. Berdasarkan hasil rapat komisi fatwa pada bulan Agustus 2000 disebutkan bahwa semua jenis minuman keras haram hukumnya. Segala sesuatu yang mengandung alcohol itu dilarang karena haram dan minuman keras adalah minuman yang mengandung alcohol minimal 1 persen, termasuk dalam obat-obatan, tak terkecuali obat batuk.
Berdasarkan hasil analisis para pakar di bidang teknologi pangan dan gizi, dikemukakan bahwa larutan yang mengandung konsentrasi alcohol sama dengan atau lebih besar dari 1 % akan berpotensi memabukkan. Hal ini merujuk pada keterangan hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh muslim dan ahmad. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rasulullah Saw melarang meminum air jus buah-buahan yang sudah didiamkan lebih dari 3 hari karena memabukkan (khamar).
Penggunaan alcohol berlebih juga akan menimbulkan efek samping. Chilwan Pandji mengatakan bila mengonsumsi alcohol yang cukup banyak termasuk yang terdapat dalam obat batuk akan menimbulkan berbagai efek. Efek tersebut adalah efek fisiologis bagi kesehatan tubuh, yaitu mematikan sel-sel baru yang terbentuk dalam tubuh serta efek Sirosis dalam hati, Dimana jika dalam tubuh manusia terdapat virus maka virus tersebut akan bereaksi dan menimbulkan penyakit hati (kuning). Sehingga menurutnya. “ Selain haram, penggunaan alcohol dalam obat lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.”
Sikap teliti dan waspada merupakan kunci dalam mengkonsumsi obat-obatan. Sikap bertanya dan membaca kandungan obat menjadi filter awal sebelum kita terjebak dalam mengkonsumsi obat-obatan yang tidak halal.

Komentar
  1. rizals08 mengatakan:

    ASS
    mohon maaf baru dibalas. setahu saya ada dua pendapat ulama :
    1. Pergunakan alkohol dengan kadar yang seminim mungkin (dibawah 1 %).
    2. Dilarang menggunkan alkohol karena alkohol merupakan zat yang berbahaya bagi tubuh manusia.

    Dari penjelasan tersebut, saya pribadi mengambil pendapat yang pertama. soal minyak wangi yang beralkohol kalau boleh saya saran mendingan anda beralih ke minyak wangi non alkohol (karena setahu saya minyak wangi non alkohol harganya lebih murah & wanginya tidak cepat menghilang). Dan juga sekarang banyak minyak wangi non alkohol yang wanginya bukan untuk orang sholat (seperti pandangan orang zaman dulu) melainkan sekarang sudah banyak wanginya seperti wangi minyak wangi alkohol. kalau dalam pelajarang kimia, manusia sering berinteraksi dengan alkohol, menurut saya tidak apa2 selama alkohol tersebut tidak masuk ke dalam tubuh kita & dengan catatan kadarnya yang minim ( diusahakan kurang dari 1%)

    wass

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s